• Blog
  • Biografi
  • Biografi Jakob Oetama, Dari Anak Desa Menjadi Pendiri Kompas Gramedia

Biografi Jakob Oetama, Dari Anak Desa Menjadi Pendiri Kompas Gramedia

Biografi 27 April 2022

Halo rekan Conectizen! Sebagai pecinta buku, kamu pasti sering berkunjung ke Gramedia, bukan? Gramedia merupakan salah satu anak perusahaan dari Kompas Gramedia yang menyediakan jaringan toko buku di seluruh wilayah Indonesia sejak tahun 1970. Sosok dibalik berdirinya Kompas Gramedia adalah Jakob Oetama. Mari kita melihat kembali perjalanan hidup beliau.

Masa Kecil dan Pendidikan

Jakob Oetama memiliki nama asli Jakobus Oetama. Lahir dari pasangan Raymundus Josef Sandiyo Brotosusiwa (ayah) dan Margaretha Kartonah (ibu) pada 27 September 1931 di desa Jowahan, Borobudur, Magelang. Jakob merupakan anak pertama dari 13 bersaudara. Ayahnya merupakan seorang guru Sekolah Rakyat di Sleman. Profesi ayahnya tersebut menginspirasi Jakob untuk bercita-cita menjadi guru.

Pendidikan dasar dan menengah ia selesaikan di Boro, dekat Yogyakarta tahun 1951. Ia sempat belajar di sekolah yang didirikan oleh Belanda. Namun sayangnya ditutup setelah kedatangan Jepang. Jakob juga sempat menempuh seminari tinggi, tetapi hanya bertahan 3 bulan.

Meniti Karier Sebagai Guru

Demi mewujudkan cita-citanya, pada tahun 1952 Jakob bertandang ke Jakarta untuk menemui Yohanes Yosep Supatmo, kerabat dari sang ayah. Ia baru saja mendirikan Yayasan Pendidikan Budaya. Namun, Jakob tidak mengajar di yayasan tersebut. Jakob mengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat hingga tahun 1953. Setelah itu, ia pindah ke Sekolah Guru Bagian B di Lenteng Agung, Jakarta hinga 1954.

Dari Lenteng Agung, Jakob berpindah tempat lagi di SMP Van Lith di Gunung Sahari hingga tahun 1956. Perjalanannya menjadi seorang pengajar ia lengkapi dengan menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Jakob mengambil B-1 jurusan Ilmu Sejarah. Lalu, ia meneruskan di Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta dan lulus dari jurusan Publisistik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada di tahun 1961. Di sela-sela mengajar, ia sempat menjadi redaktur mingguan Penabur Jakarta.

Terjun Menjadi Wartawan

Menjadi seorang redaktur yang berlatar pendidikan sejarah serta ilmu publisistik membuat Jakob erat dengan dunia kepenulisan. Bersama rekan terbaiknya, Petrus Kanisius Ojong (PK. Ojong), Jakob mendirikan majalah Intisari pada tahun 1963. Mereka terinspirasi dari majalah Amerika Serikat, Reader’s Digest.

Bermula dari situ, mereka akhirnya berhasil mendirikan Harian Kompas pada 28 Juni 1965. Memiliki konsep bahwa surat kabar harus bersifat umum dan bisa berdiri diatas semua golongan. Jakon sempat menjadi Ketua Editor Harian Kompas, Pemimpin Redaksi (pimred) Kompas, hingga jabatannya yang terakhir menjadi Presiden Direktur Kompas Gramedia.

Jakob juga aktif di beberapa organisasi. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen di Serikat Penerbit dan Surat Kabar, Pendiri Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ), dan Anggota Asosiasi Internasional Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

Selain bergerak di surat kabar/koran, perusahaan yang ia bangun bersama P.K Ojong sudah berkembang di berbagai bidang. Seperti Kompas Cyber Media, Kompas TV, KG Media, Star Weekly (terbit mingguan), serta Jakarta Post, hasil kolaborasi dengan Jusuf Wanandi dan kawan-kawannya. Kini, Kompas Gramedia tidak hanya perusahaan media saja. Namun, sudah merambah ke bisnis percetakan, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, dan radio.

Penghargaan

Jakob mengembuskan napas terakhir pada hari Rabu, 9 September 2020 di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta, di usia ke 88 tahun. Selama hidupnya, Jakob dikenal sebagai sosok pemimpin yang jujur, humanis, dan tidak pernah menonjolkan statusnya. Meski ia menjadi direktur perusahaan media nomor satu di Indonesia, Jakob akan tetap menyebut dirinya sebagai wartawan.

Selama berkarier, Jakob telah mendapatkan banyak pencapaian. Beberapa diantaranya adalah:

- Bintang Mahaputera Utama dari Pemerintah Republik Indonesia (1973)

- Doktor Honoris Causa di Bidang Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada (2005)

- World Entrepreneur of The Year Academy dari Ernst & Young, Monaco (2006)

- Lifetime Achievement Award dari PWI (2008)

- Bintang Jasa “The Order of The Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon” dari Pemerintah Jepang (2009)

- Penghargaan Pengabdian 30 Tahun Tokoh Pers di Industri Media Cetak dari Serikat Perusahaan Pers (SPS) (2012)

Bagikan artikel ini

Artikel Terbaru Kami